Greenpeace Persembahkan ‘Piala Dunia Penghancuran Hutan’ pada SBY
Jakarta, 26 Januari 2010 – Aktivis Greenpeace hari ini mempersembahkan “Piala Dunia Penghancuran Hutan” kepada Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, di luar gedung Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, dimana Piala Dunia sepak bola ‘Jules Rimet’ asli sedang dipamerkan kepada publik.
Disaksikan oleh beberapa ‘bintang sepak bola internasional’, penyerahan piala ini sebagai simbol dari dampak buruk penghancuran hutan di Indonesia. Piala diserahkan kepada aktivis yang mengenakan topeng SBY oleh Orangutan yang hidupnya makin terancam akibat pembabatan hutan.
Greenpeace menyerahkan piala ini juga sebagai pengingat bahwa Indonesia adalah Negara dengan laju deforestasi tercepat di seluruh dunia. Setiap menit area hutan setara dengan luas lima lapangan sepak bola dihancurkan sebagian besar untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit dan pulp and paper, atau rata-rata 1,8 juta hektar hutan per tahun. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai Negara penghasil emisi gas rumah kaca ketiga terbesar di dunia setelah China dan Amerika Serikat.
“Moratorium (penghentian sementara) perusakan hutan dan lahan gambut adalah cara paling efektif untuk mencapai target pengurangan emisi Indonesia,”ujar Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara. “Melindungi lahan gambut juga bisa membawa keuntungan ekonomis bagi Indonesia. Presiden Yudhoyono harus memberikan ‘kartu merah’kepada penjahat hutan seperti Sinar Mas dan APRIL yang masih terus menghancurkan hutan dan masa depan Indonesia.”
Setelah terpilih kembali sebagai presiden, SBY mengeluarkan komitmen ambisius mengurangi emisi Indonesia hingga 26% pada 2020 dan 41% dengan dukungan internasional. Tetapi hingga saat ini belum ada aksi atau kebijakan nyata untuk mewujudkan komitmen itu. Bahkan pemerintah terus mendukung perkebunan baru dan membiarkan industri raksasa seperti Sinar Mas dan APRIL terus melakukan aktivitas perusakan.
Satu-satunya solusi yang sudah dilontarkan pemerintah untuk mengurangi emisi Indonesia adalah dengan program penanaman kembali, tetapi membiarkan perusakan hutan dan lahan gambut yang nyata-nyata adalah sumber terbesar emisi Indonesia, merugikan hajat hidup masyarakat yang tergantung pada hutan, serta mengancam keanekaragaman hayati.
Pada tahun 2010 ini pemerintah Indonesia harus memperlihatkan keseriusannya mewujudkan target penurunan emisi itu dengan mengimplementasikan moratorium penghancuran hutan dan lahan gambut. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) baru-baru ini saat melakukan presentasi di Pertemuan Iklim Kopenhagen bahkan juga sudah merekomendasikan pentingnya penghentian perusakan lahan gambut.
Meski demikian, pemerintah masih tetap memfokuskan diri pada program penanaman kembali, sambil berusaha meyakinkan dunia internasional bahwa penanaman itu adalah hutan. Padahal pada prakteknya hutan sesungguhnya yang kaya karbon dan keanekaragaman hayati, akan terus dibiarkan dihancurkan untuk perkebunan kelapa sawit dan industri kertas. Program penanaman kembali seharusnya fokus kepada pemulihan ekosistem, bukan kepada perkebunan.
“SBY harus menghentikan penjahat hutan dengan penegakan hukum. Buktinya PT. RAPP saat ini sedang diinvestigasi karena secara illegal membabat hutan lahan gambut di Semenanjung Kampar, Sumatra. Dalam program kerja 100 harinya yang akan jatuh pada 28 Januari 2010 mendatang, SBY masih punya kesempatan untuk menunjukkan itikadnya dengan mencabut seluruh izin RAPP di Kampar. Itu akan menunjukkan keseriusannya memerangi perubahan iklim,”Arif menutup percakapan.
Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang beraksi untuk mengubak sikap dan perilaku, untuk melindungi dan memelihara lingkungan, dan mempromosikan perdamaian.
Kontak:
Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, +628111 805 390
Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, +628111 805 394
------------------------------------------------------------------------------------------------
Greenpeace presents ‘World Cup of Forest Destruction’ to SBY
Jakarta, 26 January 2010 - Greenpeace activists today presented the ‘World Cup of Forest Destruction’ to Indonesia’s President Susilo Bambang Yudhoyono, outside the Jakarta Convention Centre, where the real Jules Rimet Trophy is on public display.
Watched by the world’s leading football stars, and to symbolise the terrible impact of Indonesia’s deforestation, an endangered orangutan presented the world famous trophy to Indonesia’s President Yudhoyono.
Greenpeace awarded the ‘World Cup of Forest Destruction’ to President Yudhoyono as a reminder that Indonesia has the fastest rate of forest destruction in the world. Every minute an area of forest the size of five football fields is destroyed to make way for palm oil or pulp and paper plantations, averaging more than 1.8 million of hectares annually over the past five years. This rate of forest destruction drives Indonesia to 3rd place in the greenhouse gas emission league behind China and the US.
“A moratorium on forest and peatland destruction is the most effective way to meet Indonesia’s reduction targets,” said Joko Arif, Greenpeace Southeast Asia Forest Campaigner. “Protecting peatlands from conversion to plantations could benefit Indonesia’s economy. President Yudhoyono must show the red card to climate criminals like Sinar Mas and APRIL who continue to destroy Indonesia’s future.”
In his first 100 days in office President Yudhoyono made an ambitious commitment to cut Indonesia’s emissions by 26% in 2020 and by 41% with international support. But so far no real action has been taken to fulfil this commitment. The government has been pushing new plantations and plantation giants like Sinar Mas and APRIL continue with their destructive business as usual. Ironically, the only solution presented is a program of replanting, while forest and peatland destruction is allowed to continue adding to Indonesia’s emissions, destroying forest-dependent communities and decimating rich biodiversity.
In 2010 the Indonesian government must show that they’re serious about meeting their emission reduction targets by implementing a moratorium on deforestation and peatland clearance. Civil society organisations and BAPENAS, Indonesia’s National Planning Agency, also recently called for an end to peatland conversion, in a presentation they gave at the Copenhagen Climate Talks. Instead the government is focusing on replanting programmes whilst trying to convince the international community that these plantations are actually forests In practice this means that forests, rich in carbon and biodiversity, will continue to be cleared to be replaced by barren monocultures of oil palm or acacia. The replanting program should be used for ecosystem restoration and not more timber plantations.
“SBY must stop forest criminals by enforcing the law. RAPP is already under investigation for illegally clearing peatlands on Sumatra’s Kampar Peninsula. SBY still has time to take his first action to stop emissions from deforestation within his first 100 days by revoking all RAPP’s permits on Kampar. That would show that he is serious about combating climate change,” concluded Arif.
Greenpeace is an independent, global campaigning organization that acts to change attitudes and behavior, to protect and conserve the environment, and to promote peace.
Kontak:
Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, +628111 805 390
Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, +628111 805 394




