Sterilisasi jalur busway masih menjadi persoalan sejak bus TransJakarta dioperasikan 15 Januari 2004 silam. Kendaraan pribadi dan umum yang masuk ke jalur busway membuat pengguna sistem transportasi ini ikut-ikutan terjebak kemacetan. Padahal mereka menggunakan busway agar cepat sampai ke tujuan, bebas dari macet.
Communications Specialist Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Ratna Yunita mengatakan, strategi sterilisasi busway yang diterapkan Pemprov DKI hanya parsial dan tidak efektif.
Ratna mencontohkan, portal otomatis seharga 35 juta rupiah di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat yang tidak berfungsi karena ditabrak dan sensornya rusak. “Kebutuhan menggunakan portal bisa disiasati dengan memaksimalkan teknologi misalnya penempatan cctv yg sudah dimiliki oleh TMC Polda Metro Jaya,” kata Ratna Yunita.
Sementara Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Andrinoff A Chaniago mengatakan, jadwal keberangkatan busway harus dioptimalkan agar tidak ada pengguna jalan yang berani menyerobot. “Jika busway jaraknya berdekatan pasti tidak akan terjadi penyerobotan jalur karena pengguna kendaraan umum pasti khawatir ditabrak busway,” tandasnya.










