Koordinator aksi Prigi Arisandi mengatakan, botol air minum kemasan dapat merusak lingkungan karena dibuat dari bahan plastik yang tak bisa diurai. Dia mencontohkan, total sampah botol air minum di Surabaya dan Jakarta mampu menutup sekitar 2600 lapangan sepak bola.
“Teman-teman dari ITS ini telah berlaku buruk pada lingkungan, tiap hari mahasiswa itu menghitung mengkonsumsi 2-3 botol air dalam kemasan 600 mili liter. Kalau dihitung setahun ada seribuan botol plastik yang mereka buang yang mereka kontribusikan pada pencemaran di bumi Surabaya. Mereka juga menyadari ternyata banyak hal negatif dari botol plastik itu, banyak sinyal-sinyal karsinogen (penyebab kangker) yang tidak aman bagi kesehatan,” papar Prigi.
Prigi Arisandi menyarankan masyarakat untuk menggunakan botol air kemasan yang dapat digunakan berulang kali agar tidak mencemari lingkungan.
Selain itu, para mahasiwa juga mendesak Pemerintah Kota Surabaya menerbitkan aturan pembatasan pemakaian botol air minum kemasan sekali pakai. Pasalnya, sejumlah negara di Eropa dan Amerika telah menerapkan aturan tersebut. Apalagi kebutuhan botol plastik seluruh dunia mencapai tiga juta ton per tahun.










