Pencemaran yang terjadi di Kepulauan Seribu mulai berdampak pada warganya. Salah satunya ribuan bibit mangrove yang ditanam di pantai selatan Pulau Pari, terancam mati. Pasalnya, tanaman yang menjadi penopang utama gerusan abrasi bibir pantai pulau tersebut diserang pencemaran tumpahan minyak mentah.
Menanggapi kondisi pencemaran menurut Riza Damanik, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan KIARA, respons Pemerintah soal ini minim.
“Sesungguhnya praktek serupa atau pencemaran limbah minyak terjadi tiap tahun,respon Pemerintah sangat minim walaupun beberapa kelompok sudah melaporkan baik di tingkat daerah atau nasional tapi tidak ada tindak lanjutnya. Tidak mungkin ada pencemaran di sana tanpa ada pelakunya. CNOC dan BP merupakan dua perusahaan yang terduga mencemari. Kami tinggal menunggu hasil investigasinya dan kami berharap tahun ini ada nama yang disebut sebagai pelaku pencemaran,” kata Riza.
Pemerintah setempat menurut Bowo Suroso, KLH Kepulauan Seribu, air yang tercemar sudah diambil sampelnya untuk diteliti.
“Pencemaran tahun ini tidak begitu banyak. Ada beberapa pulau yang kena tapi dua-tiga hari sudah hilang. Kami belum bisa menyebutkan siapa yg menjadi pelaku pencemarnya karena harus ada hasil dari uji labnya,” kata Bowo.










