Sebuah tabung disegel. Isinya berbagai rupa. Ada kertas, CD, rekaman suara, transkip kiriman SMS. Semuanya tentang harapan untuk bumi yang lebih baik. Khususnya untuk lingkungan di ibukota : semoga lebih nyaman dihuni. Tabung itu disimpan, untuk dibuka sepuluh tahun mendatang. Sekalian dicocokkan : apakah harapan itu nanti akan terkabul, atau masih tetap sebagai harapan. Aktifis Greenpeace dan Green Radio, menyimpannya kemarin. Sebagai tanda akhir dari siaran untuk bumi, 72 jam non-stop. Bertema ”Mari Membalik Arus”.
Mengingat harapan itu disampaikan oleh warga Jakarta, tak sulit diduga isinya. Banyak harapan agar jalanan tak lagi macet. Angkutan umum yang lebih nyaman. Jalanan yang ramah untuk berepeda atau berjalan kaki. Banjir bisa dihentikan. Juga agar kita memakai energi yang lebih ramah lingkungan. Mudah-mudahan listrik tenaga nuklir tak jadi dibangun. Dan penggunaan batu-bara makin dibatasi. Diganti oleh tenaga matahari. Harapan itu bisa tercapai, kalau kita sejak sekarang bekerja mengikuti cara hidup yang lebih ramah lingkungan.
Seruan ”Mari Membalik Arus” sungguh tepat adanya. Dunia sekarang sudah paham, kalau ekonomi kita digerakkan dengan cara keliru. Tumpukan karbon di angkasa itu, terjadi karena emisi bukan dianggap biaya yang mesti ditanggung. Pemanasan global adalah hasil samping industrialisasi, kesalahan kapitalisme yang paling serius sejauh ini. Tetapi, meski pemahaman sudah ada, para pengambil kebijakan di Indonesia belum kukuh mengikuti cara baru. Ekonomi berkarbon rendah belum menjadi pijakan para eksekutif di pemerintahan ataupun perusahaan. Maka seruan anak-anak muda untuk ”Membalik Arus” itu, terasa sangat relevan.
Di bidang energi misalnya, Indonesia tak perlu mengikuti kesalahan negara lain yang terlanjur mempunyai pembangkit nuklir Dunia belum tahu cara mengelola sampah nuklir, sampai sekarang. Belum lagi kalau mempertimbangkan faktor keamanan.
Kita punya banyak sumber energi yang layak dikembangkan. Seperti tenaga matahari, angin, dan panas bumi. Sumber energi bersih itu berlimpah. Jadi, dengan perencanaan yang baik, dan konsisten, kita mestinya bisa membuat peta jalan untuk meninggalkan batu-bara. Kita sadar batubara adalah sumber energi yang kotor, dan sekarang terpaksa dipakai, karena tingkat elektrifikasi Indonesia terlalu rendah. Tetapi, jalan untuk meninggalkan batubara, mestinya bisa dibuat.
Membalik arus, juga sangat dibutuhkan dalam hal pengelolaan hutan. Kita sudah sepakat melakukan moratorium penebangan hutan alam, apalagi hutan gambut. Tetapi, pengusaha yang berpikiran pendek, ingin terus membabat hutan alam untuk perluasan kelapa sawit. Pemerintah mesti tegas menjalankan moratorium penebangan hutan.










