Minimnya lahan basah dapat menimbulkan bencana, seperti banjir. Luas area lahan basah di Jakarta kian menyempit hanya tersisa 1500 hektar saja. Tak heran banjir menjadi bencana langganan kota ini.
Lahan basah adalah daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan. Daerah-daerah tersebut bisa terjadi karena alami atau buatan. Sifat airnya tetap atau sementara. Sedangkan daerah yang berair tawar, payau, atau asin, termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 meter pada waktu air surut, merupakan daerah lahan basah juga.
Hasil definisi tersebut merupakan hasil pertemuan tingkat dunia yang membahas pentingnya lahan basah. Pertemuan itu dilaksanakan di Kota Ramsar, Iran, pada 2 Februari 1971. Sejak itu, tanggal tersebut dijadikan hari lahan basah dunia.
Ahmad Suwandi dari Jakarta Green Monster (JGM), menuturkan bahwa peringatan tersebut memberikan pengetahuan terhadap warga akan pentingnya keberadaan lahan basah, yang di Jakarta lokasinya kian terbatas. Demikian disampaikannya saat berbincang dengan 89.2 FM Green Radio, di acara Green Talk.
GR: Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam memperingati hari lahan basah?
AS: Macam-macam, seperti Asian Waterbird Census. Kegiatan yang menghitung jumlah burung Asia yang hidup di lahan basah. Kemudian, kampanye ke sekolah-sekolah atau mengajak anak sekolah ke Suaka Margasatwa Muara Angke, seperti Cenni Goes to School (CGS). Disana, mereka diajak untuk melihat secara langsung fungsi lahan basah untuk kehidupan.
GR: Target peringatannya apa, terutama di Indonesia?
AS: Targetnya adalah mengkampanyekan tentang perubahan fungsi lahan basah. Perubahan tersebut menyebabkan lahan basah menjadi tempat tinggal atau menjadi kawasan lain, yang seharusnya tidak boleh dibangun. Hal itu dapat berdampak besar pada lingkungan, misalnya semakin kecilnya wilayah untuk menampung air.
GR: Memang masih ada lahan basah di Jakarta?
AS: Salah satu yang tertinggal adalah kawasan Angke. Dulu, luasnya sekitar 1300 hektar rawa, namun sekarang hanya 25 hektar saja. Daerah yang masih cukup alami berada di sepanjang pantai utara Jakarta. Bila kita naik pesawat, akan terlihat sekali bentuk berupa lahan basah, tapi fungsinya sudah berubah, misalnya dibuat menjadi tambak. 12 tahun terakhir, kelebihan air di Jakarta berpindah ke jalan-jalan, yang mengakibatkan banjir.
GR: Kenapa ada penurunan lahan basah?
AS: Terutama adalah gaya hidup kita. Dulu, orang Jakarta tinggal di tengah, lalu mulai ke daerah pinggir Jakarta. Hal itu menyebabkan lahan basah yang ada di area baru tersebut, diuruk dan dibangun rumah.
Lalu, adanya kebutuhan penunjang kehidupan manusia yang makin menggila, misalnya pembangunan jalan tol. Jalan tol ke bandara, misalnya, dulu adalah lahan basah, kemudian dicor begitu saja untuk dijadikan jalan bebas hambatan.
GR: Cukup efektif upaya restorasi melalui kampanye penyelamatan tersebut?
AS: Sekarang memang masih memprihatinkan, tapi setidaknya ada beberapa inisiatif terkait masalah lingkungan. Yaitu undang-undang (UU) tentang tata ruang kota dan wilayah, yang mewajibkan 30% adalah ruang hijau. Target UU tersebut adalah memperbanyak wilayah menjadi lahan basah atau resapan air. Kemudian, UU tentang pengelolaan sampah, yang mewajibkan pengelolaan sampah dilakukan pemerintah, bukan dibuang begitu saja ke lahan basah, danau, atau sungai. Sekarang tinggal bagaimana menjalani itu semua.
GR: Lahan basah menjadi isu yang kalah populer dengan masalah lingkungan lainnya di Indonesia?
AS: Benar, lahan basah kurang menjadi isu hangat dibandingkan masalah lingkungan lainnya. Meskipun di Indonesia, lahan basah sudah dikenal sejak negara ini menjadi anggota Konvensi Ramsar pada tahun 1991.
GR: Tercapai kah target kampanyenya?
AS: Targetnya tercapai. Setidaknya ada beberapa sekolah yang telah memasukan penyelamatan lahan basah ke dalam kurikulum lokal. Penerapannya yaitu mewajibkan siswa sekolah tersebut mengunjungi lahan basah.
GR: Pesan lain yang ingin disampaikan terkait hari lahan basah sedunia?
AS: Sebenarnya warga Jakarta dapat melakukan penyelamatan lingkungan di halaman rumah sendiri. Caranya, memberi ruang sedikit untuk resapan air, atau membuat lubang biopori sehingga air makin cepat meresap ke dalam tanah. Terakhir adalah jangan membeton semua areal rumah kita, yang menyulitkan air meresap.










