Dinas Pertambangan dan Energi Kalimantan Timur membantah usaha pertambangan batubara menjadi pemicu kemiskinan masyarakat dan kerusakan lingkungan di daerah tersebut. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kalimantan Timur, Amrullah mengatakan, usaha pertambangan telah ditata dengan baik sehingga tak mengganggu lahan pangan masyarakat dan merusak lingkungan. Ia mengklaim, usaha pertambangan justru meningkatkan ekonomi di Kalimantan Timur karena mendapatkan keuntungan yang besar.
“Kami melihat pertambangan itu sebagai penggerak pembangunan di daerah-daerah terpencil, khususnya. Dengan adanya petambangan di Kalimantan timur memang ada pergerakan-pergerakan ekonomi yang signifikan. Di mana pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi cukup signifikan. Jumlah tenaga kerja di sektor pertambangan cukup banyak. Namun demikian, memang ada akses-akses tertentu yang tidak bisa dihindari. Misalkan adanya perubahan lingkungan.”
Sebelumnya, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai aktivitas tambang yang berada di daerah Kalimantan menurunkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan setempat. Koordinator Nasional Jatam Siti Maemunah mengatakan, penurunan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan disebabkan perubahan lahan pangan menjadi lahan tambang batubara.
Menurut Siti Maemunah, Lahan tambang batubara ini memenuhi lebih dari 4 juta hektar lahan yang ada di Kalimantan, bahkan hampir memenuhi seluruh daratan pulau itu. Sedangkan izin pertambangan terus diberikan Pemerintah Daerah. Sementara masyarakat di Kalimantan hanya mendapatkan 2 persen batubara dari pertambangan tersebut.
“Pulau kalimantan itu menjadi ajang tercepat jual murah sumber daya alam Indonesia. Termasuk batu bara yang ke depan itu sangat dibutuhkan sebagai sumber energi untuk memfasilitasi kebutuhan asing sementara masyarakatnya ditinggalkan.”
Siti Maemunah menambahkan, hingga 2009 angka orang miskin di Kalimantan Timur mencapai lebih dari 30 ribu kepala keluarga. Angka kemiskinan di kalimantan juga dipicu kegiatan tambang batu bara yang merusak sumber daya alam sehingga masyarakat tak bisa memanfaatkan potensi alamnya.










