Home Berita Terkini Nasib Petani Rumput Laut NTT (selesai)

Nasib Petani Rumput Laut NTT (selesai)

E-mail Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

Semula, ribuan petani rumput laut di Desa Daiama dan Teluk Papela tak mengerti, apa penyebab rusaknya rumput laut mereka. Sampai mereka mendengar berita buruk itu dari media. Agustus 2009, ada tumpahan minyak dari tambang lepas pantai milik perusahaan Montara milik Australia-Thailand di Laut Timor. Saat itu, sedang bertiup angin Timur dari Australia ke Indonesia. Sadli menduga, tumpahan minyak itulah  pasti penyebab gagalnya panen rumput laut mereka.

Dugaan sadli ternyata tak keliru. Desember lalu, Kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan hasil penelitiannya: Laut Timor tercemar minyak. Pertengahan Februari, datang lagi tim dari Jakarta untuk mengecek nilai kerugian yang dialami petani rumput laut.

“Kita  tidak bisa langsung klaim ada pencemaran. Harus ada uji lab. Itu nanti diserahkan ke Kementrian Lingkungan Hidup. Kalau kami di DKP khusus penghasilannya, ada kenaikan atau menurun,” kata Staf Kementerian Kelautan dan Perikanan Mina Hendry.

Tim nasional menyebarkan kuesioner untuk mengukur dampak pencemaran minyak dari Montara terhadap penghasilan petani rumput laut.  Di Daima dan Papela saja ada sekitar 1000-an nelayan yang mendapatkan kuesioner itu. Petani diminta mengisi data diri, berapa luas lahan rumput laut yang dimiliki, berapa produksinya tiap tahun, berapa penghasilannya dan sebagainya.

Yayasan Peduli Timor Barat sudah lama bicara soal dampak buruk pencemaran minyak di Laut Timor. Langkah apa pun yang dilakukan sekarang, sudah terlambat, kata Ketua Yayasan Peduli Timor Barat Ferdi Tanoni.

“Tapi kerja tim nasional ini pun kita tidak jelas. Karena begitu banyak departemen di situ. Nanti datang perikanan bilang begini. Sementara Lingkungan Hidup sudah bilang tercemar. Jadi masih terjadi pro-kontra di tubuh tim ini. Makanya ini supaya cepat harus segera dibentuk komisi penyelidikan, supaya bekerja paling lambat 30 hari untuk menyelidiki ini.”

Menjadi petani rumput laut adalah sumber penghasilan  ratusan nelayan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Tumur. Jika rumput laut laut punah, maka habislah hidup mereka.


Last Updated ( Monday, 15 March 2010 10:07 )  

Add comment