Pengelola pembangkit listrik sampah Bantar Gebang belum berhasil mengeringkan sumur gas metan untuk diolah menjadi listrik. Air sampah atau lindi masih memenuhi sumur gas itu.
Direktur Utama PT Godang Tua Jaya, Rekson Sitorus beralasan, masih turunnya hujan menyebabkan pihaknya kesulitan mengeringkan air dalam sumur gas itu. Saat ini wilayah Bekasi hampir setiap hari diguyur hujan.
Rekson Sitorus menambahkan, pengumpulan gas metan belum bisa dilaksanakan saat ini. Rencananya ada 40 sumur gas yang akan dimanfaatkan pada tahap awal produksi. Ke 40 sumur itu terdapat di zona I dan II Bantar Gebang. Kandungan gas metan di masing-masing sumur itu sekitar 350 meter kubik per jam dan mampu memproduksi listrik dua megawatt.
Produksi listrik dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat dengan kapasitas dua megawatt batal dilaksanakan pada Senin lalu (8/3). Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi Dudi Setiabudi mengatakan, produksi listrik sampah akan ditunda hingga akhir Maret.
Menurut Dudi, hal ini disebabkan sumur gas metan hingga kedalaman 25 meter penuh air. Kondisi ini menyebabkan kandungan gas metan menurun. Apabila dipaksakan produksi, hasil listriknya tidak mencapai target yang ditetapkan.
Sebelumnya, Perusahaan Listrik Negara (PLN) area pelayanan dan jaringan Bekasi, Jawa Barat berencana membeli listrik yang diproduksi dari pembangkit gas metan sampah di TPA Bantar Gebang.
Asisten Manajer Perencanaan PLN Yata Sukma Purhata mengatakan, pihaknya telah mengkaji potensi listrik sampah Bantar Gebang itu. Hasilnya, cukup bagus dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan penerangan pelanggan.










