Untuk menjaga hutan negara dari pembalakan liar, pemerintah Nepal menyerahkan pengawasan hutan kepada masyarakat lokal. Terdapat 15 ribu komunitas yang mengelola hutan di Nepal saat ini.
Para prianya membawa kapak dan tali. Sementara para perempuan, yang memakai sari warna warni, membawa keranjang bambu di punggung mereka. Kelompok yang berjumlah 200 orang dari desa Jaljale ini siap untuk masuk ke hutan yang subur itu. Mereka bukan mau menebangi hutan tapi melakukan perawatan rutin.
Kelompok besar ini kemudian dipecah menjadi lima kelompok yang lebih kecil. Mereka memasuki bagian hutan yang berbeda-beda.
Kelompok perempuan berada di hutan bagian barat. Sambil bernyanyi, mereka menyabit rumput yang tumbuh di bawah pohon dan mengumpulkan kayu bakar.
Hutan Jaljale punya pemerintah. Sekitar 15 tahun lalu, pemerintah menyerahkan pengelolaan 84 hektar hutan itu kepada komunitas lokal. Dengan keputusan pemerintah tersebut, 84 hektar hutan menjadi milik bersama bagi lebih 200 keluarga yang tinggal di sekitar hutan.
Komunitas itu membentuk komite manajemen untuk membuat aturan soal penggunaan hutan. Tek Narayan Shrestha adalah presiden komunitas yang terpilih baru-baru ini.
“Ada delapan desa yang berbatasan dengan hutan. Maka kami membagi hutan menjadi delapan bagian. Dan menyerahkan tanggung jawab kepada komunitas desa. Hewan ternak siapapun tak boleh masuk hutan. Jika ada yang ketahuan menebang pohon atau menyalahgunakan sumber daya alam hutan, mereka akan didenda. Setiap tahun, penduduk desa berkumpul dan memutuskan aturan dan hukum pengelolaan sumber daya alam,” kata Tek Narayan Shrestha.
Menurut Tek Narayan, mereka bisa menghasilkan keuntungan sekitar satu juta rupiah setiap tahunnya dari hutan. Mereka menjual jamu dan rumput ke kota terdekat. Dan setiap rumah tangga mereka beri 400 ribu rupiah setahun sebagai dana manajemen hutan. Dana itu kemudian menjadi pinjaman kredit mikro.
Terdapat 15 ribu komunitas yang mengelola hutan di Nepal. Menurut pemerintah, sepertiga penduduk negeri itu terlibat dalam kelompok konservasi ini.
Pemerintah Nepal kini ingin menjual karbon penyerapan proyek hutan ini terkait usaha dunia menurunkan emisi gas rumah kaca.
”Hutan Nepal sangat diperlukan untuk mendukung kehidupan rakyat negeri ini. Manfaat karbon hanyalah bonus. Saat ini memang memungkinkan untuk melibatkan mereka untuk meningkatkan persediaan karbon di hutan. Walau hal ini membutuhkan lebih banyak kerja. Sekarang kami sedang mempersiapkan proposal kesiapan. Ini akan menjadi petunjuk bagaimana kita harus siap untuk melakukan perdagangan karbon,” ujar Krishna Acharya, ketua Pusat Penelitian Perdagangan karbon yang baru di bentuk pemerintah.
Krishna mengatakan pemerintah akan siap melakukan perdagangan karbon pada akhir 2012.










