Kamis 12 November, pukul 4 subuh. Puluhan aktivis Greenpeace sedang persiapan akhir untuk unjuk rasa yang mereka rahasiakan. Semua perlengkapan dipindahkan ke perahu-perahu motor yang sudah menunggu di dermaga kecil depan kamp, di tepi Sungai Kampar, Riau.
Di tengah kegelapan, tujuh perahu motor dan dua perahu karet melaju ke Teluk Pepadi. Ini adalah lokasi dermaga kecil milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Sudah pukul setengah 6 pagi, hari mulai terang. Di bawah komando, puluhan aktivis itu langsung berjalan berbaris memasuki kawasan hutan gambut yang gundul. Tak tampak penjagaan di pos dermaga. Hanya ada beberapa karyawan perusahaan yang baru bangun dan bersiap-siap kerja.
Juru kampanye hutan Greenpeace, Bustar Maitar menunjukkan kanal yang terlihat di hutan gambut yang sudah gundul ini.
“Ini kanal-kanal yang dipakai untuk mengeringkan gambut. Pertama mereka membabat hutan. Nah itu artinya sudah mengeluarkan emisi gas rumah kaca, Lalu mereka mengeringkan gambut, artinya emisi rumah kaca keluar lagi. Ketiga, ketika gambut kering itulah yang menyebabkan kebakaran hutan dan susah dipadamkan,” kata Bustar.
Setengah jam berjalan, satpam RAPP berlari menyusul barisan Greenpeace. Di bawah komando Agnaldo Almeida, aktivis asal Brasil, para aktivis berjalan lebih cepat ke arah lokasi aksi.
Setibanya di lokasi, lima belas aktivis langsung membentangkan spanduk raksasa. Belasan lainnya mulai mengikatkan diri dengan rantai ke eskavator atau alat berat milik perusahaan. Mereka berdiri berjajar mengelilingi alat berat, menautkan satu sama lain dengan rantai yang dibalut pipa paralon merah.
Karyawan RAPP yang sudah siap bekerja terpaksa mengurungkan niatnya. Mereka hanya terdiam melihat eskavator dibajak oleh para aktivis. Spanduk raksasa di atas kain merah menyala itu bertuliskan,’Obama, You Can Stop This’.
“Presiden Obama sudah berjanji akan menjadi salah satu pemimpin untuk mendorong terjadinya kesepakatan yang sungguh-sungguh untuk mengatasi perubahan iklim. Sehingga pesan ini kami sampaikan, deforestasi di Indonesia bisa dihentikan dengan memberikan pendanaan global,” papar Bustar Meitar.
Sampai pukul 5 sore, aktivis Greenpeace bertahan di lokasi aksi. Puluhan karyawan RAPP bersama aparat kepolisian akhirnya membubarkan aksi.
Hari sudah gelap ketika polisi membawa paksa aktivis Greenpeace ke markas. Sejumlah perahu motor dan kapal tongkang siap membawa para aktivis ke Teluk Binjai. Di sana, mereka dinaikan ke bus yang dipakai oleh polisi. Bus itu milik PT RAPP. (bersambung)










