Kedutaan Besar Inggris melucurkan kampanye Act On Copenhagen, Rabu (18/11). Kedutaan Inggris menyebarluaskan kampanye ini antara lain dengan membagikan flyers dan meletakkan poster-poster 'Act On Copenhagen' bagi para penumpang di halte-halte busway Transjakarta.
Matthew Rous dari kedutaan besar Inggris mengatakan, pemerintah Inggris yakin semua elemen masyarakat bisa ikut berkontribusi menghasilkan resolusi positif untuk bumi dalam pertemuan Kopenhagen, bulan depan.
Sementara Menteri Menteri Negara untuk Energi dan Perubahan Iklim Inggris, Joan Ruddock mengungkapkan pentingnya kampanye menekan kenaikan suhu bumi secara global untuk menghindari berbagai bencana akibat perubahan iklim.
Di Inggris sendiri, misalnya, 42% dari total emisi yang dihasilkan berasal dari rumah tangga dan transportasi. Untuk itu, pemerintah Inggris telah lebih dulu melakukan kampanye awal bagi individu dan rumah tangga. Hasil nyata kampanye ini dapat terlihat dari pengurangan kendaraan pribadi dan program-program transportasi berbasis energi terbarukan melalui berbagai sistem insentif.
Menurut dia, konversi penggunaan bensin ke gas adalah salah satu upaya nyata yang harus ditingkatkan lagi. Sementara secara makro, upaya penyelamatan bumi bisa dilihat dari perkembangan sektor kehutanan, energi dan penghentian pembalakan liar di Indonesia.
Joan Ruddock menggarisbawahi perlunya dibentuk skema penangkapan dan penyimpanan karbon serta rencana-rencana pembiayaan untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi dampak perubahan iklim.
Sementara itu, Gubernur Jakarta Fauzi Bowo, yang juga hadir dalam acara itu, mengingatkan pentingnya meningkatkan kesiagaan setiap orang pada isu perubahan iklim dan pemanasan global. Pasalnya, kota Jakarta berada dalam posisi serius terhadap dampak perubahan iklim. Hal ini bisa terasakan oleh bencana seperti banjir, naiknya muka air laut dan ketergantungan warga pada air tanah.
Setelah konferensi pers, acara dilanjutkan dengan penaikan balon besar 'Act On Copenhagen' di halaman Kedutaan Besar Inggris; sebagai salah satu sarana meningkatkan kewaspadaan publik pada perundingan iklim dunia Desember mendatang.










