Menuangkan sari jeruk nipis ke lautan akan menghentikan akumulasi gas karbondioksida (C02) pada atmosfir bumi. Temuan ini dikembangkan Tim Kruger melalui proyek ilmiah yang diberi nama Cquestrate.
Mengacu pada hasil laporan ilmiah tersebut, teknik yang sama pula dapat diterapkan untuk mengurangi emisi gas buang akibat ulah manusia yang tidak ramah lingkungan. Prinsipnya, untuk mengurangi emisi gas CO2 itu, maka upaya yang dilakukan, yakni meningkatkan keasaman lautan.
"Ide ini tidak hanya akan menghentikan akumulasi C02 di lautan tetapi juga mengembalikan kondisi lautan seperti sedia kala," kata Kruger.
Sementara itu, Jerman akan menjadi negara pertama di Eropa yang mencoba teknologi untuk menyimpan karbon dioksida di dalam tanah. Ini merupakan salah satu cara menekan emisi gas rumah kaca ke atmosfer untuk mengatasi pemanasan global.
Sebanyak 60.000 ton gas karbon dioksida akan disuntikkan ke bawah tanah pada kedalaman 600 meter. Pada kedalaman tersebut terdapat lapisan batuan berpori yang akan mengikat gas karbon dioksida.
Fasilitas yang disebut CO2SINK itu dibangun di Ketzin, dekat Berlin. Target pertama percobaan kali ini baru menguji kemampuan batuan untuk menyimpan karbon dioksida selama dua tahun ke depan.
"Menyimpan karbon dioksida di dalam tanah akan memperlambat pemanasan global, sementara para ilmuwan memiliki waktu lebih banyak untuk mencari sumber energi alternatif," ujar Reinhard Huettl, Direktur Sains lembaga geofisika Jerman, GTZ.
Penyimpanan gas karbon dioksida di dalam tanah merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi emisinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sejumlah ilmuwan juga tengah mengembangkan teknologi alternatif untuk menekan laju kenaikan kadar karbon dioksida di atmosfer yang menjadi biang pemanasan global.
Sumber: guardian.co.uk/berbagai sumber

















