Generasi Suram Di Kawasan Sumber-Sumber Penghasil Batubara
Bagaimanakah potret kawasan sumber-sumber penghasil batubara di Indonesia? Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan sebagai dua kawasan penghasil batubara terbesar di Indonesia, ternyata potret kesejahteraan masih jauh terlihat di kawasan ini.
Faktanya, 80% batubara di Kalimantan Selatan telah dikapling untuk dijual ke 12 negara, sepertiChina, Jepang, Korea Selatan, dll. 20 % sisanya masih harus diberikan untuk kebutuhan listrik di Jawa dan Bali. Seperlima sisanya baru digunakan untuk kebutuhan Kalimantan Selatan,itu pun masih harus berbagi dengan Kalimantan Tengah.
Di Kalimantan Timur pun tidak jauh berbeda. Kawasan kaya batubara di Kutai Timur seperti Kecamatan Sengata Selatan, Rantau Pulung dan Bengalon harus mengalami pemiskinan yang sistematis lewat intimidasi, penggusuran lahan pertanian, perumahan, perusakan hutan dan sungai oleh PT KPC (Kaltim Prima Coal). Bahkan, dari 135 desa di Kutai Timur, hanya 35 desa yang dialiri listrik. Padahal, di saat yang sama PT KPC menghabiskan listrik sebesar 18,9 MW untuk operasional tambangnya, setara dengan listrik yang digunakan oleh 21 ribu rumah tangga, atau 42% kebutuhan listrik warga Kutai Timur. Sementara pasokan batubara KPC menerangi 17 negara di Asia Pasifik, Eropa dan Inggris.
Tak cuma itu, beberapa perusahaan batubara juga mendapatkan bonus dari pemerintah lewat penunggakan pembayaran royalti. Enam perusahaan batubara, seperti KPC, Arutmin, Kideco, Kendilo,Berau dan Adaro berani menunggak pembayaran royalti selama tahun 2000 - 2007 dengan nilai Rp 7 Triliun. Bahkan ICW mencatat kerugian yang ditanggung negara lebih dari itu, Rp 16,48 Triliun.
Untuk membedah potret suram di kawasan sumber-sumber penghasil batubara,JATAM mengundang kawan-kawan media sekalian untuk hadir pada :
Diskusi Media JATAM Generasi Suram Di Kawasan Sumber-Sumber Penghasil Batubara yang dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Rabu, 11 Nopember 2009
Waktu : Pukul 09.30-13.00
Tempat : Bakoel Coffe Cikini, Jl Cikini Raya No 25 Jakarta Pusat, telp 31936608
Narasumber :
1. Kahar Al Bahri, Dinamisator JATAM Kalimantan Timur
2. Dr. Udiansyah, Ph. D, Pengajar di Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan
3. Firdaus Ilyas, Indonesian Corruption Watch
Moderator : IGG Maha Adi
Demikian undangan kami, atas kehadirannya kami sampaikan terima kasih
Luluk Uliyah
Manager Sekretariat JATAM
Tentang Narasumber :
Kahar Al Bahri adalah Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur. Selama ini JATAM Kaltim aktif melakukan advokasi pertambangan di Kalimantan Timur. Saat ini JATAM Kaltim sedang melakukan penelitian daya rusak tambang di Kaltim, khususnya Kutai Barat, Kutai Kertanegara, Kutai Timur, Paser dan Samarinda.
Dr. Udiansyah, Ph. D, adalah seorang Doktor di bidang Managemen Hutan di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru-Kalimantan Selatan.
Selain mengajar di Fakultas Kehutanan, Pak Udi, panggilan akrabnya, juga aktif melakukan penelitian, menulis jurnal akademik serta di surat kabar. Salah satu penelitainnya berjudul "Forest Rent Valuation for Coal Mining Activity in South Kalimantan, Indonesia"
Firdaus Ilyas, saat ini menjadi Koordinator Divisi Pusat Data dan Analisis. ICW saat ini juga melakukan advokasi terkait korupsi di industri ekstraktif, Seperti pertambangan, migas dan batubara
-----
Luluk Uliyah
Manager Sekretariat JATAM
HP. 0815 9480 246
Email :
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it



