Video kamera otomatis (video trap) kembali menunjukkan potensinya dalam memberi cakrawala baru terhadap kegiatan konservasi badak. Dari hasil kegiatan pemantauan bulan Mei-Jun 2009, Jampang kembali terlihat dengan beberapa aktivitas di sekitar kubangan seperti: menjilat lumpur untuk kebutuhan mineral, menusukkan cula ke dinding kubangan serta menggesekkan cula ke pohon.
Jampang adalah seekor badak Jawa jantan bertubuh kuat dan kokoh yang mendiami daerah Cikeusik Barat. Sejak tertangkap kamera otomatis (camera trap) pada tahun 2000, Jampang seolah menjadi ikon badak Jawa yang tangguh dengan lipatan-lipatan kulit tidak terputus bagaikan rompi baja.
Dari kegiatan pengendalian langkap (Arenga spp.), teramati oleh tim lapangan seekor induk dan anak badak yang memasuki plot penelitian. Plot tersebut merupakan area intervensi pengurangan distribusi tumbuhan langkap, sehingga diharapkan tumbuhan pakan badak dapat tumbuh disana.
Dengan hadirnya kembali individu badak disana artinya tumbuhan pakan yang disukai badak telah tersedia kembali dan badak dapat segera menggunakan daerah tersebut untuk aktifitas makan sehari-hari.
Pemeliharaan padang penggembalaan banteng seluas 6 hektar pun terus dilakukan. Karena padang penggembalaan yang tidak terawat menyebabkan banteng harus keluar area dan mencari makan ke dalam hutan. Hal ini dapat menyebabkan kompetisi ruang dan pakan dengan badak Jawa.
Pemantauan terakhir di Cigenter menunjukkan sekitar 14 ekor banteng yang kembali masuk ke padang penggembalaan, meningkat sekitar 6 ekor pada bulan lalu. Sedangkan di Cigenter mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu dari 17 ekor menjadi sekitar 30 ekor banteng.
Sebagai bagian dari upaya pengelolaan habitat, kembalinya banteng ke dalam area padang penggembalaan menunjukan upaya pemeliharaan padang penggembalaan telah berjalan dengan baik.
Langkah awal upaya pencarian lokasi yang sesuai untuk membangun populasi baru bagi badak jawa mulai dilakukan. Tim studi dari TN. Ujung Kulon, TN.Halimun-Salak, WWF-Indonesia, YABI, IRF (International Rhino Foundation) dan RPU (Rhino Patrol Unit) melakukan analisis ekosistem dan vegetasi di blok Ciantawangi, Desa Ciusul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, TN. Gunung Halimun Salak pada 25-27 Juni 2009. Studi analisis vegetasi dan mikrolimat dilakukan di tujuh plot dengan mengambil data suhu, kelembaban, topografi dan ketersediaan sumber air. Hasil studi tersebut nantinya akan digunakan untuk mengukur potensi kawasan tersebut sebagai lokasi populasi kedua badak Jawa.










