Home Berita Terkini Menanti Peta Sebaran Harimau Sumatera

Menanti Peta Sebaran Harimau Sumatera

E-mail Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

Sejumlah NGO yang bergerak di konservasi hutan melakukan survey bersama tentang populasi Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae). Survey yang sudah berjalan dua tahun ini, direncanakan akan menghasilkan Peta Sebaran Harimau Sumatera. Peta yang dapat menunjukan populasi dan habitat satwa liar itu, rencananya akan dirampungkan tahun ini juga. Namun, keluarnya peta itu dikuatirkan membawa dampak buruk bagi harimau sumatera bila jatuh ke tangan pemburu.

Kekuatiran tersebut disampaikan oleh Karmila Parakasi, Koordinator Survei dan Monitoring Harimau Sumatera, juga dari World Wildlife Fund (WWF), saat berdialog dengan 89.2 FM Green Radio, di acara Green Talk.


GR (Green Radio): Apa pentingnya peta sebaran harimau ini?

KP (Karmila Parakasi): Peta ini hadir berbasiskan pada upaya menyelamatkan hutan-hutan di Pulau Sumatera, terutama soal habitat dan populasi harimau sumatera. Peta itu bisa menjadi pedoman bagi pemerintah daerah di semua provinsi di Sumatera, untuk membuat daerah prioritas yang dilindungi. Agar wilayah itu tidak dialihfungsikan secara sembarangan, misalnya menjadi perkebunan sawit atau lainnya.
Rencananya juga, peta ini pun akan dikaitkan pada rencana tata ruang Pulau Sumatera berdasarkan ekosistem.

GR: Siapa saja yang bisa memanfaatkan peta sebaran ini?

KP: Pada akhirnya semua orang akan memanfaatkannya. Tapi untuk permulaan, peta ini bermanfaat bagi pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Selain itu juga berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Karena Indonesia belum memiliki peta seperti ini sebelumnya.

GR: Sejauh ini, proses peta ini sampai mana?

KP: Sejak 1994, kita memiliki estimasi jumlah harimau sumatera sekitar 500 individu. Kita mau memperbarui data itu dengan metode yang lebih valid dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Untuk merealisasikan hal itu, ada beberapa NGO bidang lingkungan yang terlibat, seperti WWF, WCS (Wildlife Conservation Society), dan FFI (Fauna & Flora International).

GR: Mungkin tidak, peta ini menjadi mediasi konflik manusia dan harimau?

KP: Mungkin saja. Kami dari WWF pun sedang memetakan semua konflik yang terjadi, dan dibandingkan dengan cakupan pembukaan hutan di kawasan itu. Jadi kita bisa melihat hubungan laju kehilangan hutan dengan banyaknya konflik yang timbul. Namun, begitu peta ini keluar, kita harus waspada terhadap pemburu satwa liar. Jangan sampai peta ini disalahgunakan oleh mereka.

GR: Kapan peta ini akan rampung?

KP: Belum bisa dipastikan kapan. Karena baik WWF ataupun NGO lainnya masih melakukan survey di beberapa tempat.
Kami harapkan target selesai tahun ini bisa tercapai.

Last Updated ( Tuesday, 24 March 2009 16:31 )  

Add comment