Peta hijau mulai dikenal ditanah air sejak sepuluh tahun silam. Adalah Marco Kusumawijaya seorang pemerhati masalah tata kota yang merintis keberadaan peta hijau ini.
Dalam selembar peta hijau, bisa ditemukan sejumlah tempat yang sarat potensi alam dan budaya. Tempat-tempat tersebut kemudian ditandai dengan sebuah simbol atau ikon tertentu yang telah disepakati.
Di Jakarta, peta hijau tercatat pertama kali hadir sembilan tahun silam. Saat itu hadir peta hijau untuk kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Tahun berikutnya muncul peta hijau untuk kawasan Kebayoran Baru. Tahun ketiga komunitas peta hijau Jakarta merilis peta hijau untuk kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Pada 2005, komunitas ini mengeluarkan peta hijau untuk kawasan Kota Tua. Yang teranyar adalah peta hijau yang dirilis tahun lalu. Peta tersebut lebih lengkap karena mencantumkan juga jalur kendaraan ramah lingkungan seperti sepeda dan angkutan massal seperti bus TransJakarta dan kereta api.
Ada tidaknya peta hijau biasanya terkait dengan keberadaan komunitas peta hijau. Selain Jakarta, komunitas peta hijau kini juga telah ada di 17 daerah atau kota. Enam di antaranya hingga saat ini masih terdaftar aktif dalam sistem Green Map internasional. Sementara, sebelas komunitas dari daerah lain merupakan komunitas baru atau komunitas lama yang belum mendaftarkan diri untuk aktif kembali.
Salah satu komunitas peta hijau diluar Jakarta ada di Jawa Tengah. Mereka menggelar proyek peta hijau Mandala Borobudur. Situs resmi komunitas peta hijau mencatat peta hijau Mandala Borobudur dirintis sejak 2005. Salah satu tujuannya adalah memperkenalkan tempat wisata selain candi Borobudur.
Di tahun ini, komunitas peta hijau bertekad untuk tidak terjebak dalam euforia kampanye 'hijau' semata, tetapi menjadi alat mencapai perubahan perilaku dan kebijakan yang dicita-citakannya. Membuat masyarakat sadar lingkungan dengan aktif mengajak masyarakat terlibat dalam pemeliharaan lingkungannya.










