Negara-negara kaya termasuk beberapa anggota Uni Eropa “mengimpor” sepertiga emisi CO2 mereka.
Lembaga riset Amerika Serikat menggunakan data perdagangan global untuk melacak transaksi barang dan jasa dan dampaknya pada peningkatan emisi di negara-negara dimana barang-barang itu digunakan.
Hampir seperempat emisi Cina berasal dari pembuatan barang-barang yang diekspor ke negara-negara barat. Ketua lembaga riset AS, Steve Davis mengatakan, inilah yang menjadi alasan etis bagi negara-negara kaya untuk memimpin upaya mengurangi emisi karbon.
Sekitar 22,5 persen emisi Cina terjadi selama proses produksi barang dan jasa yang dipakai oleh negara-negara lain, dan 7,8 persennya adalah barang yang diekspor ke Amerika Serikat.
Namun, Amerika masih kalah dibanding pengimpor emisi dari negara-negara Eropa. Hasil survey menemukan, Autria, Prancis, Swedia, Swiss dan Inggris mengimpor sepertiga emisi.
Menurut konvensi iklim PBB, emisi gas rumah kaca adalah “milik” dari negara-negara dimana gas itu berasal. Namun kini sejumlah ilmuwan dan LSM lingkungan menyatakan hal itu tidak adil. Mereka mencontohkan, jika Inggris membeli barang-barang dari Cina, masyarakatnya bisa menikmati barang, tapi emisinya menjadi tanggung jawab penuh Cina.
Negara-negara Uni Eropa saat ini memproduksi sekitar 10 ton CO2 per orang. Namun kini produksi emisi beberapa anggotanya meningkat menjadi 14 ton akibat impor barang dan jasa.
Mereka menyatakan, impor barang dan jasa dari negara-negara berkembang seperti Cina akan membantu meningkatkan pendapatan dan lapangan pekerjaan baru.
Sumber: BBC News










