(Pintu Hutan Tropis yang Tersisa)
Kabut turun terlalu awal. Hari terasa lebih cepat menjemput malam di Sarongge. Hawa dingin merayapi lereng lereng-lereng Gede-Pangrango, singgah di perkampungan, membuat orang enggan keluar rumah.
Saya tiba di studio Radio Komunitas Edelweis, disambut hangat dua penyiar (petani) yang sedang mengudara. Radio ini berada satu rumah, dengan pos pengembangan Hutan Sahabat Green (1.200 mdpl), kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang dikelola Green Radio. Tempat ini dianjurkan menjadi titik mula (atau akhir), kalau Anda menikmati ekowisata di Sarongge. Radio komunitas ini menjadi sarana komunikasi, pendidikan dan hiburan antar warga. Programnya antara lain soal pertanian, konservasi alam, dan juga hiburan budaya Sunda. Radio Edelweis didirikan warga Desa Ciputri (Sarongge adalah salah satu kampungnya), 24 Oktober 2008.
Kang Dadan yang sedang siaran, langsung minta saya masuk studio. Dia bertanya tentang manfaat program adopsi pohon yang dirintis Green Radio bersama TN GGP dan petani Sarongge. Materi wawancara tidak sulit. Tapi menjelaskan dalam Bahasa Sunda, itu soal lain lagi. Dan, di tengah wawancara, Kang Dadan ( di udara memilih nama Kang Karyo) tiba tiba bilang : "Sudah dulu Pak. Saya mau kasih makan domba." Wawancara pun langsung berhenti, diganti lagu Sunda, "Kedah Ka Mana?" Ini wawancara paling berkesan yang pernah saya alami.
Adopsi pohon adalah awal dari perjumpaan Green Radio dengan warga Sarongge. Program yang dimulai Juni 2008 ini, bermaksud menghutankan kembali areal taman nasional yang sudah rusak. Di Sarongge, ada 38 hektar araa taman nasional yang kondisinya tak layak disebut taman nasional. Itulah yang mesti dihutankan kembali, dengan dukungan para adopter pohon, dan kerjasama petani. Kini sudah 7.000 pohon diadopsi, di area sekitar 18 hektar. Bersama 160 petani yang menggarap kebun- kebun di sana, kami mencari kegiatan ekonomi alternatif, untuk mengganti ketika tiga tahun nanti, petani tak boleh lagi berkebun sayur-mayur di hutan.
Maka, dalam perjalanan melintas Kampung Sarongge, Anda akan menjumpai kandang-kandang domba, dan kelinci, juga kotak-kotak lebah di halaman rumah. Sampai November 2008, ada 8 kelompok tani yang sudah mendapat guliran dana untuk pengembangan ekonomi. Tiap kelompok beranggotakan 6 petani. Empat kelompok pertama mendapat bantuan kambing, masing-masing 6 ekor. Sedangkan empat kelompok kedua mendapat kelinci, masing-masing kelompok 54 ekor. Kalau Anda bukan vegetarian, silakan memesan sate kelinci untuk dihidangkan di tempat perkemahan nanti.
Camping Ground Green Radio terletak di ketinggian 1.560 mdpl. Dengan jalan santai, kita perlu alokasikan waktu sekitar 2 jam dari Radio Edelweis. Sangat dianjurkan untuk berjalan santai, sebab banyak sekali yang bisa dinikmati sepanjang jalan. Selain kegiatan ekonomi yang sudah disebut di atas, Anda juga akan melintasi kebun strawberry, dan tentunya kebun sayuran penduduk. Jalur perjalanan diarahkan melipir batas taman nasional. Itu lebih nyaman, untuk menghindari ojek-ojek motor, yang sekarang jadi andalan mobilitas warga Sarongge. Jadi, setelah Gudang Pupuk milik H. Dadi (1.280 mdpl), Anda dapat belok kanan, menuju pinggiran batas taman nasional, dan mengikuti jalur setapak itu ke arah tempat perkemahan.
Di ketinggian 1.380 mdpl, persimpangan jalan ke setapak dan arah ke kebun bunga (BFI), Green Radio akan membuat shelter kecil. Sekedar penanda, dan juga tempat rehat sejenak. Di sini pula, nantinya akan menjadi tempat parkir kendaraan, untuk peserta adopsi pohon. Dari titik ini, Anda akan lurus ke arah hutan, melewati lidah taman nasional yang masih terawat vegetasinya. Di seberang lembah, adalah perkebunan teh Maleber, milik Arifin Panigoro. Pengusaha yang sekarang jadi penasehat CI itu, selain meremajakan kebun tehnya, juga membuat pembibitan untuk pohon-pohon endemik TN GGP; seperti puspa, rasamala, manglid dan saninten.
Berjalan menanjak sedikit, jangan lupa untuk berhenti di depan rumah Pak Emi (1.420 mdpl). Ini kampung terakhir sebelum masuk kawasan hutan. Di sini ada gardu, yang bisa untuk istirahat sejenak, juga mushola Al Baroqah. Kampung ini masuk RT 03 dan 04, satu-satunya area Sarongge yang belum dapat aliran listrik PLN. Green Radio tengah berusaha supaya pembangkit listrik tenaga angin dibangun di sini. Survey pendahuluan sudah dilakukan dan hasilnya : angin ( 3 m/detik) cukup untuk membangkitkan listrik. Kebiasaan penduduk memasang kolecer (kincir angin untuk lomba dan mainan), tampaknya akan cocok untuk menerima pembangkit listrik tenaga angin.
Tetapi kalau berhenti di rumah Pak Emi, jangan abaikan rak bambu reyot di samping kiri pintu rumahnya. Di situ selalu tersedia ceret, dan sejumlah gelas. Siapapun boleh menikmati minuman yang tersedia. Kalau lagi mujur, ada teh hangat di situ. Setidaknya, air putih pasti ada. Air ini disediakan keluarga Pak Emi untuk siapa saja yang membutuhkan. Ini mengingatkan saya pada kebiasaan lama di desa-desa Jawa Tengah (juga Jawa Barat) yang suka menyediakan kendi di depan rumah. Untuk orang orang yang lewat dan kehausan. Kebajikan lama, yang mengedepankan semangat menolong dan keramahan tuan rumah. Kebiasaan itu digilas industri air minum dalam kemasan. Industri yang membawa cara hidup baru : yang memandang semua hal – termasuk air – adalah komoditi dan mesti dijual-belikan. Pak Emi berasal dari zaman yang berbeda.
Saya selalu terharu, tiap kali melewati rumahnya....
Setelah itu jalan akan terus menanjak. Anda akan segera menemukan gubuk kecil milik H Elan, tempat Green Radio akan memberi penanda, supaya Anda belok ke ke kiri. Jalan setapak setelah itu agak terjal; dan licin di musim hujan. Tetapi udara sangat segar. Anda, sesekali bisa menengok ke bawah, ke arah Cipanas dan Cianjur. Jangan khawatir, kalau Anda mesti kerap berhenti di tanjakan ini. Pelan pelan saja, sampai ke batas kebun warga dan area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Batas ini ditandai dengan pohon eucalyptus yang berjajar rapi. Di sini, Green Radio akan membuat shelter dan plang nama ”Hutan Sahabat Green” (1.550 mdpl).
Tarik nafas sebentar. Lepas pandangan ke arah bawah. Persis di depan Anda, kalau cuaca cerah, akan tampak Gunung Halang. Di latar belakangnya, gunung yang lebih tinggi adalah Gunung Geulis (seperti namanya, memang terlihat cantik menjulang). Sedangkan di belakang Anda, tempat kita akan melanjutkan perjalanan, bertengger Gunung Gede (2.959 m). Kenapa yang di depan itu dinamakan Gunung Halang? tanyakan pada guide Anda. Mungkin dia akan bercerita tentang mitos, keinginan Gunung Geulis dan Gunung Gede menikah. (Sejak kapan gunung gunung perlu menikah ya?) Tapi, begitulah yang dipercaya masyarakat. Gunung Gede dan Gunung Geulis, meski saling cinta, tak boleh menikah. Karena masih bersaudara. Itu sebabnya, ada Gunung Halang, berdiri kokoh diantara mereka. Menjadi penghalang..
Melewati gerbang eucalyptus (tanda bahwa dulu kebun ini milik Perhutani, bukan taman nasional) itu, anda segera tiba di camping ground Green Radio (1.560 mdpl). Tempat yang sangat asyik untuk melepas lelah. Berada di Pasir Kidul, kiri kanannya lembah yang bisa dituruni untuk mencari air. Jauh ke bawah, tentu terlihat Cipanas dan Cianjur. Di malam hari, lampu-lampu berkerlip, nyaman di bawah sana. Dan, kalau anda memilih hari kemah di waktu purnama, keindahan tempat ini nyaris sempurna. Selain di tenda, anda juga bisa memilih tidur di rumah pohon. Berlatar hutan Gede Pangrango yang masih asli, memandang kota-kota tua lelap tertidur. Semalam di Cianjur, saya jamin jauh lebih berkesan di perkemahan ini, ketimbang di kota Cianjur.
Anda pun perlu tidur, memulihkan tenaga untuk perjalanan besok.
Pagi akan menyapa Anda lebih cepat di Pasir Kidul. Gurat merah matahari terbit, akan memasuki celah tenda Anda sebelum Anda ingin bangun. Tetapi, nikmatilah. Ini juga momen yang sangat bagus untuk berfoto. Suara monyet, babi hutan, kadang masih bisa terdengar di pagi yang belum beranjak panas. Setelah sarapan, Anda punya beberapa pilihan perjalanan. Tergantung kesanggupan dan keinginan Anda berjalan di hutan. Dari perkemahan Anda akan menyusuri kebun kebun sayur petani, tempat adopsi pohon Green Radio, sepanjang kurang lebih 1 Km, sebelum masuk ke perbatasan hutan. Di perbatasan ini, Green Radio akan bikin shelter, tempat briefing terakhir sebelum masuk hutan.
Segera rasakan bedanya, antara taman nasional yang didominasi kebun sayur dan taman nasional yang masih asli. Yakni, hutan tropis dengan keragaman tanaman luar biasa. Ada lebih dari 1.500 jenis tanaman di hutan ini. Yang mencolok antara lain : rasamala (Altingia Excelsa), saninten (Castanopsis Argentea), puspa (Schima wallichii), jamuju (Dacrycarpus Imbricatus). Kalau sedang beruntung, Anda akan melihat elang ular, bertemu babi, atau monyet. Dianjurkan untuk berjalan dalam kelompok kecil ( 5 orang) dengan satu guide; tidak merokok atau berisik, untuk memperbesar kemungkinan melihat binatang. Di hutan ini masih ada macan tutul Jawa (panthera pardus melas) dan termasuk satwa yang dilindungi. Inilah sedikit dari hutan tropis yang tersisa di Pulau Jawa. Sarongge, pintunya, dapat dijangkau dari Jakarta hanya dengan 3 jam perjalanan mobil (sampai Radio Edelweis), plus 2 jam jalan kaki ke Camping Ground Green Radio.
Ada tiga pilihan rute :
(1). Setelah masuk hutan dan melewati Legok Caor (1.740 mdpl), Anda dapat memilih belok ke kanan, melintasi area adopsi pohon di Pasir Tengah; lalu kembali ke tempat perkemahan, dan terus ke Radio Edelweis. Lama perjalanan sekitar 3 jam.
(2). Setelah masuk hutan dan melewati lewat Legok Caor, serta batas lama antara TN dan perhutani (1.780 mdpl), Anda melanjutkan perjalanan ke Utara, dan terus di dalam hutan, sampai berbelok ke kanan; ke arah Pasir Leutik. Setelah keluar dari hutan, Anda akan melewati area adopsi pohon Green Radio yang pertama, termasuk pohon yang ditanam Raja Belgia. Temui juga kotak-kotak lebah di pinggir hutan, dan nikmati madunya. Dari Pasir Leutik Anda bisa menyusuri lidah taman nasional, dan kembali ke Radio Edelweis. Lama perjalanan sekitar 5 jam.
(3). Setelah masuk hutan, melewati Legok Caor, batas lama, Anda terus memilih jalur dalam hutan ke arah Surya Kencana; berhenti di Zaenal Abidin (2.200 mdpl). Ini tempat bersejarah, yang pernah menjadi persembunyian DI/TII. Mereka berkemah di area ini cukup lama, sebelum Zaenal Abidin ditangkap. Dari titik ini, Anda akan memutar ke kiri melalui hutan lebat, dan muncul di batas hutan wilayah Galudra. Dari Galudra, perjalanan menurun, kembali ke perkemahan, dan Radio Edelweis. Lama perjalanan sekitar 7 jam.
Selain tiga rute itu, tersedia juga kemungkinan perjalanan lebih jauh dan menginap di Surya Kencana. Dari pintu Resort Sarongge, perjalanan ini hanya dapat dilakukan untuk keperluan religi. Setelah masuk hutan, dan terus ke titik Zaenal Abidin, anda melanjutkan perjalanan ke alun-alun Surya Kencana (2.750 mdpl). Warga Sarongge, dan banyak orang Sunda lainnya, punya kepercayaan Sunda wiwitan, dan tradisi berdoa di alun-alun yang mereka percaya sebagai makam Pengeran Surya Kencana. Ritual di bulan purnama.
Bagi pendaki gunung, Surya Kencana diingat sebagai padang edelweis yang sangat indah. Alun alun seluas kurang lebih 50 hektar itu, penuh bunga edelweis. Tenang, langit bersih. Indah sekali bermalam disana. Sayangnya, keindahan ini terancam oleh pendaki, yang bukan hanya mengotori alun-alun, tetapi kadang membakar kayu untuk mengatasi dingin ( di musim kemarau, pada malam hari suhu di Suryakencana bisa sekitar 0 C) Di era 80-an, di alun-alun Suryakencana ini terdapat pondok untuk pendaki Sekarang lenyap, karena dibakar pendaki yang kedinginan.
Kembali ke Sarongge.
Setiba di Radio Edelweis, Anda bisa memilih oleh-oleh. Di depan radio itu akan tersedia hasil pertanian organik : wortel, kol, daun bawang; juga madu asli Sarongge, dan bibit kelinci. Kalau Anda penggemar teh, jangan lupa mencicipi teh asli Sarongge. Kemasan teh hijaunya juga dapat dibeli di kantor Perkebunan Teh Sarongge, sekitar 600 meter dari Radio Edelweis. Tempat itu terlewati ketika Anda akan kembali ke Jakarta. Bagi, Anda yang kurang suka perjalanan di hutan; Kebun Teh Sarongge juga menawarkan alternatif wisata kebun teh. Ada pabik teh ukuran mini yang bisa dilihat di samping kebun. Bahkan Anda ditawari untuk memproses teh hijau hasil petikan sendiri.
Jadi, tunggu apa lagi. Dengan begitu banyak kemungkinan eko-wisata di Sarongge, apa yang menunda perjalanan Anda ke sana? Sampai jumpa.










