Home Berita Latest Nasib Petani Rumput Laut NTT (bag.1)

Nasib Petani Rumput Laut NTT (bag.1)

E-mail Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

Josias Ferro memperlihatkan rumahnya di Desa Daiama, Nusa Tenggara Timur. Dindingnya batako, berlantai ubin. Luas bangunan 200 meter persegi, dengan 3 ruang utama di dalamnya. Perabot lengkap. Josias juga membangun rumah untuk sang mertua, persis di samping rumahnya. Josias adalah petani rumput laut di Desa Daiama, NTT.

Desa ini menjadi salah satu pusat pembudidayaan rumput laut di Pulau Rote, NTT. Butuh 2,5 jam perjalanan dengan motor dari ibukota kabupaten untuk sampai ke sana. Meski jauh dari gemerlap ibukota, warga di sana tidak ada yang miskin. Rumah dibangun dari batako, anak-anak bersekolah dan sebagian warga pun punya motor.  

Semua berkat rumput laut, kata Josias.

“Saya ingat betul 2001 itu bibit hijau, beta tidak tahu namanya, itu hasilnya bagus sekali. Waktu satu kali panen bisa timbang 300an kilogram, satu kali panen. Jadi kitong bisa hitung waktu itu 3500 per kg, jadi dapat 1 juta lebih. Bayangkan itu beta panen... pokoknya beta punya penghasilan itu tahun belasan juta, jadi beta bisa bangun ini rumah dan sisihkan buat makan,” kenang Josias.

Provinsi NTT ditetapkan sebagai pusat pembibitan rumput laut sejak tahun lalu. Rencananya, tahun ini dibangun 2 pabrik pengolahan rumput laut di Sikka, Flores dan Waingapu, Sumba.

Produksi rumput laut NTT tahun lalu mencapai 2 juta ton per tahun, senilai 8 miliar rupiah.  Bagi nelayan seperti Josias, budidaya rumput laut mendatangkan penghasilan yang lebih besar ketimbang melaut. Bisa sampai puluhan juta rupiah.

Namun kini usaha yang telah mengangkat hidup penduduk seperti di Desa Daiama dan Teluk Papela, terancam punah. September 2009, petani rumput laut menemukan berbagai keanehan pada tanaman rumput laut mereka. Warnanya memucat, tidak tumbuh besar, dan licin berminyak. Rumput laut rusak. Panen gagal.

“Semestinya tidak biasa begini. Kalau dia besar kan tumbuh subur tuh. Tiba-tiba ada lumpur-lumpur putih menempel. Kami pikir itu hanya kotoran air biasa. Lama-lama rumput laut makin mengecil. Mana yang kami rawat kami gosok baik-baik, itu bisa bertahan, ada keluar tunas kecil. Tapi yang tak sempat kami rawat, dalam jangka waktu sekian dia hancur,” kata petani rumput laut di Teluk Papela, Sadli Hudari. Bersambung.

 

Last Updated ( Monday, 15 March 2010 10:03 )  

Add comment