Ingin menikmati dingin dan sejuknya hutan, mengamati beragam jenis vegetasi yang berstrata, mendengarkan ributnya kicauan burung, dan mencicipi buah hutan? Semua bisa didapat di camping ground Sarongge, Gede-Pangrango.
Untuk menuju tempat itu Anda bisa memilih berbagai rute, salah satunya adalah rute 5 jam. Setelah masuk hutan dan melewati Legok Caor, serta batas lama antara Taman Nasional Gede-Pangrango dan perhutani, Anda melanjutkan perjalanan ke Utara, dan terus di dalam hutan, sampai berbelok ke kanan; ke arah Pasir Leutik. Setelah keluar dari hutan, Anda akan melewati area adopsi pohon Green Radio yang pertama, termasuk pohon yang ditanam Raja Belgia. Temui juga kotak-kotak lebah di pinggir hutan, dan nikmati madunya. Dari Pasir Leutik Anda bisa menyusuri lidah taman nasional dan kembali ke Radio Edelweis.
Di perjalanan Anda akan menjumpai tumbuhan pinding (Nikolaia sp.). Tumbuhan ini sangat khas dengan bunganya yang berwarna merah menyala. Di sela-sela kelopak bunganya terdapat buah kecil-kecil berwarna putih kekuningan, seperti umbi-umbian yang terbungkus kulit licin. Rasanya asam manis segar.
Ada juga hariang beureum (Begonia robusta) yang merupakan tumbuhan semak. Daun begonia umumnya berbentuk jantung tak simetris dan berduri halus. Begonia bisa dijadikan tanaman hias karena warnanya dari daun hingga ke tangkainya berwarna merah marun, yang pastinya cantik dan menarik untuk dilihat. Nah, bagian dari begonia yang bisa dimakan adalah tangkainya. Bila tangkai daunnya dikupas, rasanya asam dan sedikit pahit.
Saat menelusuri hutan di Sarongge Anda juga akan menemukan pisang kipas liar (Musa sp.). Tapi pisang hutan satu ini, tidak bisa dimakan buahnya seperti jenis pisang lainnya. Yang bisa dimakan adalah jantungnya. Jantung pisang bisa dibuat sayur bening atau digulai.
Selain pinding dan begonia, ada juga konyal (Passiflora suberosa). Namun jenis tumbuhan ini merupakan jenis invasif, karena bukan jenis asli yang tumbuh secara alami di Sarongge. Tanaman ini didatangkan dari luar atau ditanam oleh masyarakat. Tanaman merambat ini telah mematikan beberapa jenis tanaman asli di hutan tersebut. Jika invasi konyal ini tidak segera ditangani maka spesies - spesies tanaman yang ada di hutan tersebut lambat laun akan mati.
Konyal dalam bahasa pasar disebut dengan markisa. Di hutan Sarongge, konyal mudah didapatkan karena memang pertumbuhannya telah merambat kemana-kemana. Selain manusia, jenis monyet seperti lutung dan owa juga gemar memakannya.
Tapi ada juga jenis tamanan yang tidak boleh dimakan. Salah satunya adalah amis mata. Nama yang diberikan oleh masyakat desa Sarongge tersebut tidaklah sekadar nama, melainkan ada latar belakangnya. Amis mata sebenarnya kepanjangan dari manis mata, yang berarti manis terlihat di mata. Dan memang begitu adanya, warna buah amis mata beragam ada yang biru langit cerah, ungu, dan merah. Tapi jangan sekali-kali makan buah amis mata walaupun terlihat menggiurkan. Tanaman ini beracun atau pahit sekali rasanya.
Semua tumbuhan hutan tersebut merupakan contoh nyata bahwa keberadaan hutan sangat penting bagi kehidupan manusia dan hewan. Hutan tidak hanya dinilai dari keberadaan kayunya saja untuk dieksploitasi secara masif.








